Progresif.id – Ketua Badan Kehormatan DPRD Provinsi Jawa Barat, Sabil Akbar, mengingatkan generasi muda agar tidak melupakan sejarah kelam Indonesia pada 1965. Menurutnya, berbagai peristiwa kekerasan dan konflik politik yang terjadi pada masa tersebut harus menjadi pelajaran penting bagi pelajar dan mahasiswa agar tragedi serupa tidak kembali terjadi.
Sabil menilai generasi muda perlu memahami sejarah secara utuh, termasuk ketegangan politik yang terjadi menjelang Gerakan 30 September 1965 serta kekerasan yang berlangsung setelahnya.
“Jangan lupakan sejarah kekejaman PKI tahun 1965 lalu. Jadikan ini pelajaran penting, terutama para pelajar dan mahasiswa, agar kejadian kelam itu tidak terulang lagi,” ujar Sabil Akbar.
Ia menekankan, pentingnya pendidikan sejarah bagi generasi muda. Menurutnya, pemahaman terhadap perjalanan bangsa tidak cukup hanya dengan menghafalkan tanggal dan nama tokoh, tetapi juga perlu memahami bagaimana konflik politik, pertentangan ideologi dan kekerasan dapat membawa dampak besar bagi kehidupan masyarakat.
Peristiwa 30 September 1965 merupakan salah satu titik penting dalam sejarah politik Indonesia. Pada 1 Oktober 1965, sejumlah perwira Angkatan Darat diculik dan dibunuh oleh kelompok yang menamakan diri Gerakan 30 September.
Dokumen historis pemerintah Amerika Serikat yang telah dideklasifikasi mencatat keterlibatan sejumlah unsur militer dan kelompok yang berkaitan dengan organisasi komunis dalam gerakan tersebut, meskipun kajian sejarah mengenai siapa yang paling bertanggung jawab dan sejauh mana keterlibatan PKI sebagai organisasi masih menjadi bahan penelitian dan perdebatan.
Sesudah Gerakan 30 September gagal, Indonesia memasuki periode kekerasan yang luas. Penangkapan, pembunuhan, penahanan dan berbagai bentuk kekerasan terjadi terhadap orang-orang yang dituduh sebagai anggota atau simpatisan PKI maupun kelompok yang dianggap terkait dengannya.
Komnas HAM menyimpulkan bahwa rangkaian peristiwa 1965-1966 mengandung bukti permulaan yang cukup mengenai terjadinya pelanggaran HAM berat. Penyelidikan tersebut mencatat antara lain dugaan pembunuhan, penyiksaan, perbudakan, penghilangan orang secara paksa dan bentuk pelanggaran lainnya.
Karena itu, pembelajaran mengenai 1965 tidak hanya penting untuk memahami konflik politik dan ideologi pada masa lalu, tetapi juga untuk memahami besarnya dampak kekerasan terhadap masyarakat.
Sabil berharap pelajar dan mahasiswa dapat mengambil pelajaran dari sejarah tersebut dengan membangun sikap kritis, menghargai perbedaan pandangan serta menolak kekerasan sebagai cara menyelesaikan persoalan.
Menurutnya, generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga kehidupan demokrasi dan persatuan bangsa. Perbedaan pilihan politik maupun pandangan ideologi, kata dia, semestinya disikapi melalui mekanisme yang damai dan sesuai dengan aturan.
Sejarah 1965 juga menunjukkan bahwa sebuah bangsa dapat mengalami perubahan besar ketika konflik politik berkembang menjadi kekerasan. Karena itu, mempelajari sejarah bukan sekadar melihat masa lalu, melainkan memahami risiko yang dapat muncul ketika perbedaan tidak lagi diselesaikan melalui dialog dan cara-cara damai.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi dunia pendidikan. Pelajar dan mahasiswa merupakan generasi yang akan menentukan arah kehidupan sosial dan politik Indonesia pada masa mendatang. Pemahaman sejarah yang kritis dan berbasis sumber dapat membantu generasi muda mengenali berbagai perspektif tanpa kehilangan fakta-fakta penting mengenai kekerasan dan penderitaan yang pernah terjadi.
Dengan demikian, mengingat tragedi 1965 bukan berarti mempertahankan konflik masa lalu, melainkan menjadikannya sebagai bahan pembelajaran agar masyarakat Indonesia tidak mengulangi kekerasan politik dan pelanggaran kemanusiaan yang pernah terjadi.

