Langkah Nyata Pupuk Kujang Memperkuat Sabuk Hijau Pesisir Karawang dari Kerusakan Lingkungan
  • Jelajahi

    Copyright © Berita Inspiratif Progresif.id
    Berita aktual tepercaya

    Translate

    Kanal Video

    Langkah Nyata Pupuk Kujang Memperkuat Sabuk Hijau Pesisir Karawang dari Kerusakan Lingkungan

    Senin, 06 Juli 2026
    PT Pupuk Kujang realisasi penanaman 5.151 bibit pohon mangrove di kawasan pesisir utara Karawang, Jawa Barat.


    Progresif.id – Upaya mitigasi dampak perubahan iklim dan penurunan kualitas lingkungan di wilayah pesisir terus diakselerasi melalui kolaborasi nyata antara sektor industri dan masyarakat setempat. 


    Dalam momentum peringatan hari jadinya yang ke-51, PT Pupuk Kujang mempertegas komitmen keberlanjutan tersebut dengan merealisasikan penanaman 5.151 bibit pohon mangrove di kawasan pesisir utara Karawang, khususnya di Dusun Tangkolak, Desa Sukakerta, Kecamatan Cilamaya Wetan.


    Langkah strategis anak perusahaan Pupuk Indonesia (Persero) ini merupakan bagian dari program pemberdayaan berkelanjutan yang diinisiasi oleh Departemen Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan sejak tahun 2024 demi menyelamatkan ekosistem pantai yang kian kritis.


    "Program penanaman mangrove dan pendampingan di Dusun Tangkolak ini adalah keinginan kami untuk berkontribusi dalam melindungi ruang hidup masyarakat pesisir, selain itu program ini adalah bentuk investasi sosial jangka panjang dan tanggung jawab lingkungan Pupuk Kujang," ujar Arlyza Eka Wijayanti, Direktur Operasi dan Produksi, saat melakukan penanaman, Senin, 6 Juli 2026.


    Melalui konsistensi program yang telah berjalan selama dua tahun terakhir, wilayah pesisir yang sebelumnya memiliki tingkat kerentanan tinggi kini mulai bertransformasi menjadi area yang rimbun oleh vegetasi mangrove. 


    Keberhasilan ini tidak lepas dari kombinasi penanaman pohon dan implementasi teknologi rekayasa lanskap berbasis komunitas, di mana warga lokal memanfaatkan alat penjebak sedimen sederhana yang terbuat dari susunan ban bekas serta bilah bambu untuk memicu pemulihan daratan.


    Muhammad Fazri Farhani, local hero dari Dusun Tangkolak mengatakan, dengan metode tersebut, terjadi reklamasi dengan proses alami, membentuk tanah timbul, memperkuatnya dengan hutan bakau hingga menambah daratan. 


    “Alat tersebut menjebak sedimen laut yang terbawa ombak ke daratan,sehingga mengunci lumpur yang dibawa gelombang terjebak di daratan tak kembali lagi ke laut,” kata Fazri.


    Sebelum adanya intervensi dari program lingkungan ini, kondisi geografis pemukiman warga berada dalam posisi yang sangat mengkhawatirkan akibat mundurnya garis pantai. Fazri bercerita, sebelum program ini dilakukan, garis pantai hampir menyentuh rumah di Dusun Tangkolak. 


    “Saat banjir rob, ketinggian air mencapai paha orang dewasa,” ungkap Fazri.


    Melalui pendampingan yang intensif, kelompok masyarakat akhirnya memperoleh edukasi teknis mengenai pembuatan dan pengaplikasian alat penjebak sedimen tersebut guna mengatasi persoalan yang mereka hadapi. 


    “Kami pasang sepanjang 200 meter di garis pantai, dan dalam kurun waktu hampir dua tahun, telah menghasilkan tanah timbul, garis pantai maju kira-kira 50 meter ke arah laut, daratan pun bertambah dan kami terus tanami pohon-pohon mangrove di tanah timbul ini,” kata Fazri.


    Efektivitas dari rekayasa lanskap ini dirasakan langsung oleh warga, di mana sedimentasi yang mengeras kini berfungsi sebagai pemecah gelombang alami yang menahan laju air laut menuju pemukiman. 


    Dengan rekayasa lanskap tersebut, ujar Fazri, saat ini air tak lagi naik karena terhadang tanah timbul. Fazri berharap tanah timbul bisa terus ditanami mangrove dan menjadi hutan bakau yang lebih rimbun dan kokoh. 


    “Sehingga tak hanya menjadi benteng desa dari ombak, namun hutan ini menjadi kawasan wisata terpadu yang berdampak bagi masyarakat,” kata Fazri. 


    Keberadaan sabuk hijau ini sekaligus mengembalikan rasa aman bagi penduduk yang selama bertahun-tahun hidup di bawah bayang-bayang ancaman banjir pasang laut. 


    "Masyarakat tak lagi khawatir ketika terjadi banjir rob. Sebab, ada benteng alami dan perubahan lanskap di pesisir ini,” kata Fazri.


    Urgensi penyelamatan kawasan pesisir di wilayah ini memang tergolong krusial mengingat laju kerusakan daratan yang masif di Kabupaten Karawang. 


    Merujuk pada data resmi Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Karawang, abrasi telah mengikis sebagian besar garis pantai utara, dengan rincian sepanjang 7,8 kilometer masuk dalam kategori kerusakan parah yang tersebar di enam wilayah kecamatan, termasuk di dalamnya Kecamatan Cilamaya. 


    Dalam rentang waktu 13 tahun terakhir, garis pantai di Karawang tercatat telah mengalami kemunduran berkisar antara 50 hingga 300 meter ke arah daratan, di mana pada beberapa titik ekstrem, bencana hidrometeorologi ini telah memutus akses jalan publik dan menenggelamkan sebagian ruang tinggal warga.


    Percepatan laju abrasi ini diidentifikasi bersumber dari degradasi ekosistem pesisir, terutama akibat penggundulan hutan bakau. Berdasarkan analisis citra satelit Landsat 7 ETM+, ekosistem mangrove di sepanjang pesisir Karawang telah menyusut hingga 56 persen atau setara dengan kehilangan luasan 194,7 hektare dalam kurun waktu 13 tahun.


    Kondisi ini diperparah oleh pola cuaca musiman, di mana sebelum maraknya kontribusi program CSR dari sektor industri di Karawang dan sekitarnya, warga pesisir selalu khawatir di kisaran bulan Desember-Mei. 


    Sebab, di bulan-bulan itu, biasanya angin berhembus dari arah utara tegak lurus ke pesisir Karawang dan menjadi banjir rob saat pasang.


    Menyikapi realitas ekologis tersebut, manajemen Pupuk Kujang menegaskan bahwa orientasi dari program pemulihan lingkungan ini didesain untuk memberikan dampak proteksi yang bersifat permanen bagi kelangsungan ekosistem dan ekonomi masyarakat setempat. 


    Direktur Operasi dan Produksi Pupuk Kujang, Arlyza Eka Wijayanti mengatakan, program pelestarian hutan mangrove ini terus bisa memberikan daya dukung terhadap lingkungan.


    “Dengan program ini, kami berupaya membuat benteng alami dan ikut mempertahankan habitat setempat. Momen penanaman di HUT ke-51 ini adalah ekspresi rasa syukur, karena itu kami wujudkan dalam aksi nyata pada lingkungan dengan menanam 5.151 pohon mangrove di tahun ini. Kami juga bekerja sama dengan sejumlah perusahaan di lingkungan Pupuk Indonesia (Persero) dengan total sebanyak 10.800 pohon mangrove,” tutur Arlyza.


    Perusahaan berharap investasi lingkungan yang diwujudkan melalui kolaborasi multipihak ini dapat terus dirawat secara konsisten agar manfaat fungsionalnya dapat dirasakan oleh generasi mendatang. 


    “Kami harap bibit-bibit mangrove ini bisa dipelihara dengan baik dan bisa berdampak signifikan bagi lingkungan. Ini belum selesai, masih banyak yang bisa kita tanami di pesisir Cilamaya,” Arlyza menambahkan. [*]

    Kolom netizen >>>

    Buka kolom netizen

    Lentera Islam


    "Sesungguhnya sedekah dapat memadamkan murka Allah dan menghindarkan dari kematian yang buruk." [HR. Tarmidzi]

    Berita Terbaru