• Jelajahi

    Copyright © Berita Inspiratif Progresif.id
    Berita aktual tepercaya

    Kanal Video

    Budidaya Udang Vaname, Potensi Ekonomi Masyarakat Pesisir Karawang

    Jumat, 06 Oktober 2023


    Penulis: Anggoro Prihutomo

    Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL) IPB University dan Staff di BLUPPB Karawang 



    KABUPATEN KARAWANG memiliki potensi kawasan pesisir yang sangat luas dengan garis pantai sepanjang 84,23 km. 


    Wilayah pesisir utara terdiri dari 9 kecamatan. Kecamatan-kecamatan tersebut adalah Cilamaya Wetan, Cilamaya Kulon, Tempuran, Cilebar, Pedes, Batujaya, Cibuaya, Tirtajaya, dan Pakisjaya. 


    Kegiatan ekonomi masyarakat pesisir termasuk di Kabupaten Karawang utamanya adalah dari sektor perikanan baik perikanan tangkap maupun perikanan budidaya di tambak. 


    Perikanaan budidaya di daerah pesisir pada umumnya adalah budidaya air payau di tambak. Luas tambak di kabupaten Karawang mencapai  18.608,08 Ha. 


    Komoditas perikanan yang dibudidayakan di kawasan pesisir antara lain udang vaname, udang windu, bandeng, nila salin dan rumput laut.


    Permasalahan di pesisir karawang

    Tingginya potensi kawasan pesisir di Kabupaten Karawang belum diiringi dengan tingkat kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut. 


    Masih tingginya tingkat kemiskinan, angka putus sekolah,  pengangguran dan tingkat kesenjangan sosial ekonomi serta permasalahan sosial ekonomi lainnya merupakan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat pesisir pada umumnya. 


    Akses sumberdaya yang tidak merata di masyarakat pesisir kemungkinan menjadi penyebab dari permasalahan permasalahan yang ada. 


    Sebagai contoh adalah luasnya tambak di kawasan pesisir termasuk di Kabupaten karawang hanya dimiliki oleh kelompok masyarakat tertentu saja, sedangkan masyarakat yang bekerja sebagai nelayan atau buruh lepas di kawasan pesisir  pada umumnya hanya memiliki lahan yang terbatas. 


    Permasalahan lainnya yang sering dihadapi masyarakat pesisir adalah ketersediaan air tawar yang sangat terbatas, dengan sungai nya yang payau dan sumur yang asin. 


    Apalagi saat ini pada beberapa daerah pesisir telah mengalami intrusi air laut, akibat pemanfaatan air tanah yang berlebih.


    Potensi budidaya udang vaname

    Salah satu upaya peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di pesisir adalah dengan budidaya budidaya udang vaname.  


    Udang vaname atau udang kaki putih (Lithopenaeus vannamei) merupakan jenis krustasea yang paling banyak dibudidayakan dan diproduksi di seluruh dunia. 


    Menurut data FAO, pada tahun 2020 produksi udang vaname dunia mencapai  5,8 juta ton dan merupakan 51,7% dari produksi crustasea dunia. 


    Udang ini merupakan jenis udang introduksi dari Amerika Selatan yang banyak dibudidayakan di Indonesia sejak akhir 90-an untuk menggantikan udang windu (Penaeus monodon) yang sudah sulit dibudidayakan karena serangan virus White spot/ bercak putih.


    Indonesia bersama negara-negara di Asia Tenggara merupakan produsen udang hasil budidaya terbesar di dunia dengan produkssi total udang hasil budidaya pada tahun 2020 mencapai 881.599,16 ton nilai ekonomi mencapai 54,9 Trilyun. 


    Sedangkan produksi udang Jawa Barat tahun 2020 mencapai 1.066.291 ton dimana produksi udang vaname dari Kabupaten Karawang hanya 0,15% dari total produksi udang vaname Jawa Barat atau hanya 1.578,96 ton. 


    Melihat potensi lahan yang ada dan produksi yang dihasilkan, produksi udang vaname di Kab. Karawang berpotensi untuk terus ditingkatkan.


    Keunggulan budidaya udang vaname dibandingkan dengan komoditas udang lain terutama udang windu yang telah lebih dulu dibudidayakan di Indonesia antara lain:


    a. Pertumbuhan lebih cepat dari udang lainnya sehingga masa panen akan lebih cepat (90-100 hari).


    b. Varietas vaname lebih tahan terhadap serangan penyakit, hal ini sangat penting karena bila rentan terhadap serangan penyakit akan menyebabkan kerugian atau gagal panen.


    c. Sarana dan prasarana pendukung dari budidaya udang vaname sudah sangat baik dan sudah menjadi industri yang cukup berkembang dan tertata, yaitu dari industri benihnya, pakan, obat obatan, sarana aerasi, termasuk serapan pasarnya.


    d. Udang vaname dapat dibudidayakan dengan padat tebar yang tinggi dan mempunyai produktifitas yang cukup tinggi pula.


    e. Teknik budidaya nya relatif mudah karena bisa dikembangkan dengan teknik budidaya tradisional maupun dengan teknik modern atau supra intensif.


    f. Udang vaname dapat hidup pada range salinitas yang lebar (eurihaline) dari salinitas yang mendekati tawar hingga salinitas pada air laut, sehingga sangat potensial untuk dibudidayakan pada daerah pesisir yang mempunyai salinitas/kadar garam rendah.


    g. Usaha budidaya ini dibandingkan dengan komoditas lainnya (lele, nila, bandeng, dll) mempunyai harga pasar yang relatif tinggi sehingga mampu mempunyai margin keuntungan yang tinggi pula (Rp 15.000,00 – 20.000,00/Kg udang) 

      

    Permasalahanan budidaya udang vaname


    Namun demikian, budidaya udang vaname juga mempunyai banyak permasalahan. Beberapa permasalahan dalam membudidayakan komoditas ini antara lain:


    1. Telah terjadinya penurunan kualitas lingkungan tambak (pencemaran air, kerusakan habitat, penurunan kualitas lahan), terutama di kawasan pantai utara Jawa. 


    Hal ini sebagai akibat dari tingginya aktivitas manusia di daerah ini, baik industri, pertanian, peternakan, rumah tangga bahkan ekses dari kegiatan budidaya udang sendiri.


    2. Munculnya berbagai macam penyakit yang sering menyerang udang vaname selama pemeliharaan sehingga mengakibatkan gagal panen.


    3. Tingginya modal yang dibutuhkan untuk usaha budidaya udang ini dalam skala tambak, sehingga hanya kalangan tertentu saja yang mampu untuk melakukan usaha ini.


    4. Terjadinya perubahan iklim dewasa ini juga diduga telah menyebabkan cuaca sering tidak stabil yang berdampak pada melemahnya kondisi udang di tambak.


    Solusi untuk budidaya udang vaname bagi masyarakat pesisir


    Berdasarkan dari potensi dan permasalahan diatas, BLUPPB Karawang sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang dimiliki Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah mengembangkan paket usaha budidaya udang vaname skala rumah tangga menggunakan bak terpal. 


    Sebagaimana budidaya lele dan nila sistem bioflok yang telah berkembang terlebih dahulu. Mengingat daerah pesisir yang relatif terbatas ketersediaa air tawarnya untuk budidaya ikan air tawar, maka sepertinya komoditas udang vaname yang mempunyai habitat di air payau hingga laut lebih cocok untuk dikembangkan di daerah pesisir, termasuk Karawang.

    Keuntungan budidaya udang vaname di bak terpal


    Keuntungan budidaya udang vaname di bak sebagaimana yang telah dikembangkan di BLUPPB Karawang adalah:


    1. Tidak membutuhkan areal atau lahan pemeliharaan yang luas seperti di tambak, sehingga sangat cocok untuk dijadikan usaha skala rumah tangga di pesisir.


    2. Mempunyai produktivitas yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan pemeliharaan di tambak. Berdasarkan yang penulis kembangkan di BLUPPB Karawang budidaya udang di bak terpal bundar mempunyai produktivitas lebih dari 3 kg udang/m3, sedangkan pada tambak konvensional saat ini terutama di pantai utara jawa produktivitasnya jarang melebihi 2 kg udang/m3.


    3. Biosecurity yang lebih terjaga. Hal ini karena konstruksi bak yang tinggi (tidak menggali tanah), mampu menghalangi masuknya hama baik ular, biawak, termasuk kepiting. 


    4. Pengelolaan air media yang lebih mudah dan terkontrol. Volume air media budidaya yang relatif sedikit bila dibandingkan dengan tambak konvensional akan mempermudah pengelolaan air agar tetap optimal untuk udang.


    5. Keberhasilan budidaya udang lebih terjamin bila dibandingkan dengan tambak sistem konvensional. Pengalaman penulis selama melakukan kegiatan budidaya udang vaname di bak, hampir tidak pernah mengalami gagal panen, terutama pada awal pemeliharaan. 


    6. Modal investasi yang lebih ekonomis bila dibandingkan dengan tambak konvensional, sehingga sangat cocok untuk usaha budidaya udang skala rumah tangga.

     

    Persyaratan lokasi


    Budidaya udang vaname di bak ini membutuhkan persyaratan lokasi yang perlu dipenuhi untuk menunjang kelancarannya. Syarat lokasi tersebut antara lain adalah:


    1. Tersedianya air laut atau payau untuk media pemeliharaan. Air payau/laut bisa berasal dari laut, saluran tambak, muara sungai ataupun sumur air asin. 


    Budidaya ini juga dapat dilakukan menggunakan air tawar, meskipun ada usaha/input yang lebih untuk mengkondisikan udang vaname pada salinitas rendah dan pengkondisian air media pemeliharaan melalui penambahan mineral.


    2. Tersedianya jaringan listrik untuk sistem aerasi, pompa dan penerangan.


    3. Ketersediaan lahan untuk melakukan usaha budidaya.


    Potensi pasar 


    Potensi pasar untuk udang vaname sangat besar sekali, mulai dari ukuran kecil hingga ukuran konsumsi. Tidak ada pengepul yang akan menolak bila ditawarin untuk membeli udang vaname. 


    Di daerah karawang sendiri banyak sekali pengepul atau pedagang udang yang siap untuk membeli udang vaname dengan harga yang bersaing. 


    Apabila ingin memperoleh margin keuntungan yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan bila dijual ke pengepul kita dapat menjual langsung ke konsumen. 


    Selain itu saat ini ada potensi pasar untuk dengan harga yang menarik untuk udang vaname kecil yaitu untuk umpan memancing. 


    Penjualan udang vaname untuk umpan memancing dijual hidup dengan harga satuan per ekor bukan kiloan sebagaimana untuk konsumsi. 


    Semakin maraknya kegiatan memancing di daerah pesisir karawang menjadi potensi pasar yang menjanjikan bila kita mampu mensuplai kebutuhan umpan udang hidup mereka.


    Sarana dan prasarana


    Prasarana yang perlu disiapkan untuk memulai usaha ini antara lain:


    1. Bak tandon air


    Bak tandon air digunakan untuk mengendapkan dan menampung air payau laut dari lingkungan (saluran, laut, sumur) sebelum diisikan ke bak pemeliharaan. Bak tandon dapat berupa torren air ataupun bak terpal sebagaimana bak pemeliharaan.


    2. Bak pemeliharaan


    Bak pemeliharaan dapat berupa bak terpal baik dengan bentuk bundar, oval, maupun persegi. Terpal yang digunakan bisa terpal plastik biasa dengan ketebalan tertentu, terpal semi karet (orchid) dan terpal plastik HDPE. 


    Rangka bisa berupa besi waremesh, kayu, bata ringan, dll. Untuk skala rumah tangga volume bak yang ideal adalah 10-30 m3. Bak pemeliharaan perlu dilengkapi dengan pipa pemasukan maupun saluran pembuangan

    3. Sistem aerasi


    Aerasi digunakan untuk mensuplai kebutuhan oksigen bagi kehidupan udang maupun kerja bakteri pengurai pada media pemeliharaan. Pada skala rumah tangga aerator dapat berupa blower super charger. 


    Batu aerasi, uniring maupun diffuser dapat digunakan untuk menghasilkan gelembung udara yang lembut agar oksigen mudah terlarut dalam media budidaya.


    4. Pompa


    Pompa diperlukan untuk mengambil/mempompa air dari saluran, laut maupu sumur air asin dan juga mengisikan air ke wadah pemeliharaan. Pompa dapat berupa pompa celup (submersible) maupun pompa sentrifugal.


    5. Timbangan duduk/gantung


    Timbangan ini berfungsi untuk menimbang pakan, mineral, dan udang saat panen.


    6. Timbangan dapur digital


    timbangan ini difungsikan untuk menimbang bahan dalam jumlah sedikit baik pakan, mineral, probiotik dan udang.


    7. Jaring/seser panen


    Jaring diperlukan untuk pemanenan udang


    8. Ember dan gayung


    Ember dan gayung diperlukan untuk wadah pakan, probiotik, mineral saat akan ditebarkan ke dalam media budidaya.


    9. Keranjang


    Keranjang digunakan sebagai wadah udang saat panen untuk ditimbang.


    10. Peralatan siphon


    Peralatan siphon berupa pipa dengan ujung dibuat sedemikian rupa dan disambung dengan selang spiral. 


    Peralatan perlu untuk membersihkan kotoran yang ada di dasar bak yang tidak ikut terbuang saat pembuangan air.


    11. Alat monitoring kualitas air 


    Alat monitoring kualitas air yang perlu tersedia adalah DO meter, pH meter, salino meter, termometer serta Kit untuk monitoring konsentrasi amonia dan nitrit.


    12. Instalasi pengolah limbah


    Instalasi pengolah limbah idealnya harus ada pada setiap kegiatan usaha. Pada kegiatan usaha budidaya udang, instalasi pengolah limbah paling ideal adalah berupa lahan basah/mangrove yang ada di kawasan pesisir 

    Sarana budidaya yang harus ada antara lain adalah:


    1. Bahan desinfeksi air


    Bahan ini diperlukan terutama pada saat persiapan air. Fungsinya adalah untuk membasmi hama yang ikut bersama air sebelum benih udang di tebar. Bahan ini yang utama adalah kaporit.


    2. Benih udang vaname


    Kami merekomendasikan benih yang digunakan untuk usaha ini adalah benih udang yang berasal dari hatchery udang bersertifikat CPIB (Cara Pembenihan Ikan yang Benar) dan benih udangnya juga bersertifikat bebas dari penyakit dan parasit tertentu (SPF). Ukuran benih yang digunakan minimal berukuran 8 mm.


    3. Pakan udang


    Pakan udang diperlukan oleh udang untuk melakukan metabolisme dan tumbuh. Pakan udang merupakan pakan tenggelam dengan kandungan protein dari 40%-32%. 


    Pada awal pemeliharaan (starter) starter diperlukan pakan dengan protein lebih tinggi dibandingkan dengan protein pakan pada akhir pemeliharaan. Bentuk pakan udang adalah bubuk, crumble dan pellet, pemberiannya tergantung ukuran udang yang dipelihara.


    4. Prebiotik dan Probiotik


    Probiotik adalah bakteri menguntungkan yang sangat berperan selama proses budidaya udang. Pemberian probiotik perlu dibarengi dengan prebiotik yang merupakan makanan bagi bakteri probiotik. 


    Prebiotik yang diberikan dapat berupa sumber karbon (molase). Bakteri probiotik diperlukan untuk menguraikan bahan organik yang ada di media pemeliharaan, selain itu juga mampu menjaga daya tahan tubuh udang bila bakteri probiotik ini perkembang di usus udang.


    5. Makro dan mikro mineral


    Makro dan mikro mineral sangat dibutuhkan oleh udang untuk metabolisme. Makro mineral antara lain Kalsium, magnesium, kalium, natrium dan fosfor. Sedangkan mikro mineral antara lain besi, seng, kobalt, selenium, fluor, tembaga, mangan, kromium, kobalt.


    6. Imunostimulan


    Imunostimulan berfungsi untuk menjaga daya tahan tubuh udang agar selalu optimal selama pemeliharaan sehingga tidak mudah untuk terserang penyakit. Imunostimulan dapat berupa vitamin c, ekstrak bawang putih bawang putik, probiotik dan lain lain.


    Manajemen Pemeliharaan udang vaname di bak


    Operasional kegiatan usaha budidaya udang meliputi:


    a. Persiapan wadah/bak


    Kegiatan persiapan wadah meliputi pencucian bak, pemasangan saringan dan setting aerasi.


    b. Persiapan air


    Persiapan air meliputi pengisian air, sterilisasi air dan pengkondisian air agar siap ditebar benih udang.


    c. Penebaran benih


    Penebaran benih udang dilakukan bila media atau air telah siap, yaitu minimal 7 hari setelah dilakukan sterilisasi. Jumlah tebar benur yang penulis rekomendasikan adalah tidak lebih dari 400 ekor/m3.


    d. Manajemen Pemeliharaan


    1. Manajemen pakan


    Pada awal pemeliharaan hingga umur 30 hari pakan diberikan sesuai program pakan, selanjutnya hingga panen pemberian pakan disesuaikan dengan nafsu makan udang. 


    Ukuran dan bentuk pakan juga disesuaikan dengan ukuran udang. Frekuensi pemberian pakan 4-6 kali sehari.


    2. Manajemen kualitas air 


    Kualitas air yang diinginkan atau yang ditargetkan selama pemeliharaan udang Vaname di bak terpal perlu dijaga dalam kondisi tetap optimal. 


    Oleh karena itu perlu manajemen kualitas air selama proses pemeliharaan. Manajemen yang dilakukan antara lain monitoring kualitas air, pergantian air, pemberian aerasi yang cukup, penyiponan,  pemberian probiotik, penambahan sumber karbon, termasuk mineral.


    3. Manajemen kesehatan udang


    Manajemen kesehatan udang dilakukan agar daya tahan tubuh udang tetap fit selama pemeliharaan, sehingga udang tidak mudah terkena penyakit. Usaha yang dilakukan antara lain pemberian vitamin C, probiotik (laktobacillus), antioksidan, juga mineral.


    Penambahan dilakukan dengan cara mencampur bahan tambahan ke dalam pakan sebelum diberikan ke udang.


    4. Monitoring pertumbuhan


    Monitoring pertumbuhan udang dilakukan agar kita mengetahui bagaimana tingkat pertumbuhan udang selama pemeliharaan.


    Dengan data ini kita dapat mengevaluasi manajemen pemeliharaan kita selama ini. Monitoring dilakukan dengan mengambil sampel udang dari bak dan menimbangnya menggunakan timbangan digital. 


    Sehingga akan diperoleh berat rata-rata udang dan tingkat pertumbuhan udang. Monitoring dilakukan secara rutin dengan periode tertentu (setiap 7 atau 10 hari).

    e. Panen

     

    Pada pemeliharaan dengan padat tebar tinggi seperti di bak terpal ini, agar tingkat produktivitas yang tinggi dapat dicapai perlu dilakukan beberapa kali pemanenan atau dengan istilah panen parsial. 


    Panen parsial dilakukan untuk mengurangi beban media pemeliharan dan mempercepat pertumbuhan udang. 


    Panen parsial dilakukan dengan cara mengambil sebagian udang menggunakan jaring secara perlahan. 


    Panen total dilakukan ketika size udang telah mencapai ukuran konsumsi atau dengan berat rata-rata 20 gram. Panen total dilakukan dengan cara mengeringkan bak pemeliharaan secara total.

     




    Kolom netizen >>>

    Buka kolom netizen

    Lentera Islam


    "Jika engkau mengikuti (kemauan) kebanyakan orang (kafir) di bumi ini (dalam urusan agama), niscaya mereka akan menyesatkan dari jalan Allah. Mereka hanya mengikuti persangkaan belaka dan mereka hanyalah kebohongan" (Q.S Al-An'am Ayat 116)

    Berita Terbaru

    infrastruktur

    +