![]() |
| Puluhan siswa-siswi SDN Pucung VI mengikuti kegiatan belajar di teras kelas guna mengantisipasi bahaya. |
Progresif.id – Kondisi bangunan SDN Pucung VI di Desa Pucung, Kecamatan Kotabaru, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, memprihatinkan. Kerusakan konstruksi atap dan plafon membuat orangtua siswa khawatir bangunan ambruk dan membahayakan keselamatan anak-anak.
Salah seorang orangtua siswa, Yanti, mendesak Bupati Karawang Aep Syaepuloh segera mengalokasikan anggaran untuk memperbaiki sekolah tersebut tahun ini.
"Pak Bupati Aep Syaepuloh, tolong bantu kami. Segera perbaiki atap gedung SDN Pucung VI karena kondisinya sudah rusak parah. Kami khawatir bangunan ambruk dan menimpa anak-anak," kata Yanti kepada wartawan, Selasa (3/11/2026) siang.
Menurutnya, kerusakan tersebut sudah berlangsung cukup lama. Sejumlah kayu penyangga atap terlihat melengkung dan lapuk. Kondisinya semakin mengkhawatirkan, terutama saat musim hujan.
"Jangan sampai menunggu ada korban. Kami mohon segera diperbaiki, jangan sampai ditunda ke tahun depan," ungkapnya.
Ironisnya, lokasi SDN Pucung VI tidak jauh dari kediaman Wakil Bupati Karawang, Maslani. Saat ini, para siswa terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar di teras sekolah akibat kondisi bangunan yang membahayakan.
Sementara itu, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana (Sapras) Disdikbud Karawang, Dede Pramiadi, menyatakan SDN Pucung VI telah masuk dalam prioritas perbaikan pada 2027.
"SDN Pucung VI sudah masuk sasaran 2027," terangnya.
Terpisah, Koordinator Wilayah (Korwil) Pendidikan Wilayah V, H. Sanusi, menuturkan pihaknya telah mengusulkan perbaikan SDN Pucung VI dan SDN Citarik III, Kecamatan Tirtamulya.
Ia menjelaskan, berdasarkan surat pengantar sekolah tertanggal 2 November 2026, plafon bangunan SDN Pucung VI ambrol pada akhir Oktober sekira pukul 10.00 WIB.
Peristiwa tersebut mengakibatkan sekitar 75 persen bagian bangunan pada empat ruang kelas, mulai dari kelas 1 hingga kelas 4, mengalami kerusakan.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka, kejadian tersebut mengganggu aktivitas belajar mengajar, terutama saat musim hujan.
Pihak sekolah telah mengamankan lokasi, membatasi akses ke area berbahaya, serta melaporkan kejadian tersebut kepada pihak terkait.
"Kami harap ada perhatian dan tindak lanjut dari Disdikbud Karawang," ujarnya. [Sky]

