![]() |
| Rumah warga yang kebanjiran, air datang tiba-tiba pada dini hari. |
Progresif.id - Hingga Rabu (6/5/2026) siang, jumlah rumah yang terendam banjir di Desa Karangligar, Kabupaten Karawang, Jawa Barat bertambah dari 372 menjadi 442 rumah.
Namun, pada waktu Ashar di hari yang sama, air banjir surut menyisakan 277 rumah yang masih banjir akibat luapan Sungai Cibeet.
Selain rumah, banjir setinggi 50-200 cm juga merendam 3 masjid, 3 musholla dan 2 sekolah, yaitu SDN 1 Karangligar dan SMPN 1 Telukjambe.
Turap tanggul sungai sekunder yang sedang dalam perbaikan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) sejak pertengahan April 2026 lalu, tak luput dari banjir, yang menyebabkan rusak, jebol dan roboh di 3 titik.
Tak hanya dari Sungai Cibeet, air banjir juga masuk melalui saluran air Rawakonang dari Sungai Citarum, akibatnya permukiman warga di Dusun Kampek dan Dusun Pangasinan di RT 04/01 juga kebanjiran.
Puncak banjir dari Sungai Cibeet dan Sungai Citarum yang mengapit desa tersebut, terjadi pada Selasa (5/5/2026) dini hari, disebabkan hujan lokal yang deras dan air kiriman dari hulu sungai.
Untuk mengatasi bencana ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karawang telah menurunkan logistik untuk kebutuhan makan warga di pengungsian.
Akibat banjir ini, sebanyak 1.389 jiwa mengungsi, dari jumlah itu tercatat 70 balita dan 7 bayi yang jadi korban banjir.
Diketahui, meski intensitas curah hujan lokal di Karawang terbilang kecil, tetapi luapan Sungai Cibeet dan Sungai Citarum ini, kerap membuat musibah rutin tahunan yang belum ada solusinya.






